Seni Tradisional Bantengan Khas Kota Malang,Menggalang Dana Untuk Korban Gempa Palu,Donggala di Lapangan Merjosari Malang

INDONESIASATU.CO.ID:

Malang:Keberagaman masyarakat Indonesia sudah terkenal dari jaman dahulu.Baik itu dari sisi suku,seni budaya juga adat istiadat.Dan dari keanekaragaman masyarakat kita tersebut,bangsa ini juga terkenal dengan kerukunannya juga sifat tenggang rasa yang bukan hanya dengan suku masing-masing tapi juga dengan semua suku yang ada di Indonesia.Adat istiadat yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan juga gotong royong adalah cerminan dari falsafah dasar negara kita Pancasila dan masyarakat kita yang ber bhinneka tunggal ika.Berbeda-beda tetapi tetap satu.

Seperti itulah mungkin gambaran dari yang dilakukan oleh komunitas seni tradisional bantengan yaitu kesenian asli kota Malang.Minggu 11/11/2018,komunitas ini berkumpul di plasa Merjosari,sebutan sebuah lapangan di depan kelurahan Merjosari kecamatan Lowokwaru kota Malang.Acara dibuka oleh Lurah Merjosari H.Abdullah dan diprakarsai oleh karang taruna Dewa Singha kelurahan Merjosari Malang,komunitas bantengan ini melakukan penggalangan dana untuk korban gempa di Palu,Donggala dan Sigi.Setelah beberapa waktu yang lalu karang taruna Dewa Singha menggalang dana dengan menampilkan  hiburan live musik di depan kelurahan,pada hari minggu kemarin mereka mendatangkan komunitas seni tradisional bantengan.Komunitas ini berasal dari berbagai kelurahan juga kecamatan di wilayah kota Malang antara lain dari Merjosari,Dinoyo,Badut dan lain-lain.

Komunitas seni bantengan ini menampilkan berbagai macam atraksi khas bantengan Malang.Seperti aksi banteng berkelahi dengan macan yang diperagakan oleh beberapa orang.Yang menarik atraksi bantengan ini juga ada pemain bantengan dan pemain yang berperan sebagai macan ikut "kesurupan"setelah ritual mistik dengan menggunakan dupa dan menyan yang dibakar.Atraksi bantengan ini mengingatkan kita dengan seni budaya jaran kepang juga berasal dari jawa timur,yang juga menampilkan atraksi "kesurupan"dengan memakan benda-benda yang tidak mungkin bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan normal seperti makan kaca atau beling,membuka kulit kelapa dengan hanya memakai gigi,juga makan kembang sesajen dan lain-lain.

Yang membedakan adalah kalau kesenian jaran kepang  menggunakan kuda yang terbuat darianyaman bambu,sedangkan bantengan menggunakan kayu yang dibentuk seperti kepala banteng dan untuk tanduknya juga bisa memakai tanduk banteng asli.Mengingat sulitnya medapatkan tanduk banteng yang asli terkadang pemain bantengan menggunakan tanduk kerbau yang dimodifikasi seperti tanduk banteng.

Pemain bantengan terdiri dari 2 orang yang bertugas memainkan kepala banteng dan satu orang lagi di bagian ekor.Dua pemain bantengan ini ditutupi kain hitam yang menyerupai bentuk tubuh binatang banteng.Hampir mirip dengan atraksi Barongsai yang juga menggunakan 2 orang pemain di bagian kepala dan buntut atau ekor.Sedangkan untuk bantengan juga menggunakan pemain lain yang memakai kostum macan.Sedangkan untuk pemain yang mengendalikan pemain bantengan dan macan ada beberapa orang berpakaian hitam-hitam khas jawa timuran dan memakai udeng/ikat kepala khas jawa sembari memainkan alat berupa pecut.Sedangkan musik untuk mengiringi para pemain bantengan yang beraksi adalah musik dengan irama jawa dengan menggunakan kendang,gong,kenong dan penyanyi jawa seperti sinden.Dan di jaman modern musik bantengan sendiri juga terkadang memasukkan alat musik seperti keyboard,dan lagu-lagunya pun bisa juga memainkan lagu berbahasa jawa modern yang sedang populer saat ini.

Warga juga pedagang makanan "ndadakan" sekitar kelurahan Merjosari juga sangat antusias menonton atraksi bantengan yang dimulai pagi sekitar pukul 10.00 wib dan atraksi bantengan yang menampilkan 7 grup bantengan berakhir sekitar pukul 16.00 wib.(Hendro B.L)

  • Whatsapp

Index Berita