Dugaan Korupsi Dana BOS, Kepala MTSN Andilan tidak Membantah

INDONESIASATU.CO.ID:

PASAMAN --- Kuat dugaan, berkisar Rp. 73 juta dana BOS Madrasah Tsanawiyah Negeri Andilan setiap tahun, disimpangkan. Kiat penyimpangannya disinyalir memanfaatkan kelemahan sistem pelaporan on line yang tidak membutuhkan penyertaan kwintansi untuk bukti pendukung dalam laporan. Disamping itu, MTSN Andilan juga memungut uang komite dari siswa, sehingga dengan mudah dilakukan penyimpangan dengan pola duble anggaran atau dengan menumpang-tindihkan anggaran. Cukup dasar dugaan bahwa penyimpangan tersebut adalah untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain. 

Dugaan penyimpangannya, didukung oleh fakta-fakta informasi yang dikumpulkan dalam penelusuran investigasi sejak Februari 2018 yang lalu. Fakta informasi tersebut, antara lain, tidak pernah ada cetakan ( print out ) laporan tahunan on line penggunaan dana BOS dalam kearsipan tata usaha sekolah, tidak pernah ada musyawarah dengan Komite Madrasah dalam menyusun RKAM, tidak ada transparansi pengelolaan keuangan dana BOS; dan sebahagian besar anggota Dewan Guru yang dilacak keterangannya merasa tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan RKAM sekolah, khususnya rencana penggunaan dana BOS. Utak-atik dana BOS hanya oleh “trio aktor”, yaitu: Kepala Sekolah, Bendahara, dan Operator. 

Ketika masalah cetak laporan on line (print out laporan) dikonfirmasikan kepada Alia Netti, bendahara BOS MTSN Andilan, ia membantah fakta informasi dari ketatausahaan Madrasah. Menurutnya, laporan tahunan on line dana BOS tersebut selalu dicetak dan dilampiri dengan bukti-bukti pendukung, seperti kwitansi, dll. Tetapi ketika ditanya dibawah pertanggungjawaban siapa letak keberadaan arsip tersebut, Alia Netti tidak dapat menunjukkan di tangan siapa letak keberadaan arsip tersebut.

Terkait dugaan penilepan dana bos di MTsN Andilan ini, telah diminta konfirmasi tertulis kepada Kepala Sekolah, Tetapi Muhammad Yanto memilih diam, tidak membantah, tidak menjelaskan dan tidak mengiyakan.(Tim)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita